Senin, 27 Agustus 2012

Ikan Mati Mengapung di Krueng Lamnyong


25082012foto.11_.jpg
SERAMBI/MURSAL ISMAIL
RIBUAN ikan mati terapung di pinggiran Krueng Lamnyong, Banda Aceh, Jumat (24/8) sore. Hingga malam tadi belum diketahui penyebab matinya ribuan ikan secara mendadak di sungai itu.

* Bapedal: Diduga karena Perubahan Cuaca

BANDA ACEH - Fenomena yang menyedot perhatian masyarakat terjadi di aliran sungai (krueng) Lamnyong, Banda Aceh, Jumat (24/8) siang. Di beberapa bagian permukaan sungai yang tenang itu terlihat hamparan berwarna putih kekuning-kuningan yang ternyata adalah ikan yang mengapung. Ada yang sudah mati dan tak sedikit pula yang terlihat masih bergerak dengan kondisi lemah.

Hingga lepas magrib tadi malam, ikan yang mengapung di aliran sungai pada jalur utama ke Darussalam itu masih menjadi tontonan masyarakat. Warga setempat mengatakan, sudah ada petugas yang datang mengambil sampel air sungai untuk diteliti. 

Amatan Serambi di lokasi kejadian, ikan yang mati mengapung itu umumnya belanak (beulaneuk) dan beberapa jenis ikan kecil lainnya. Fenomena itu mulai terlihat masyarakat sejak pukul 13.00 WIB, Jumat kemarin. Selain masyarakat di sepanjang aliran sungai, tak sedikit pengguna jalan berhenti di atas jembatan Lamnyong menyaksikan kejadian itu.

Banyak pula warga yang memanfaatkan kesempatan itu untuk menjala sisa-sisa ikan yang masih hidup yang umumnya sudah membentuk hamparan di pinggir Krueng Lamnyong sebelah barat. Sedangkan yang sudah mati lebih banyak terapung dan terbawa angin ke pinggir sebelah timur tak jauh dari jembatan.

Warga setempat menduga penyebab kematian ikan itu karena limbah pupuk padi di persawahan Krueng Barona Jaya yang dibawa arus akibat hujan deras beberapa hari terakhir ini. “Kalau sengaja diracun, sepertinya tidak mungkin karena ikan-ikan besar tidak mati,” kata Abdullah, seorang petani tambak yang ikut melihat peristiwa itu.

Hingga pukul 19.30 WIB malam tadi, sebagian warga masih tetap menjala sisa-sisa ikan yang masih hidup. Ada yang sudah terkumpul setengah goni, bahkan informasi pada siangnya sudah ada yang menjual ikan dari Krueng Lamnyong itu ke Pasar Lambaro, Aceh Besar.

Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedal) Aceh, Ir Husaini Syamaun yang dihubungi Serambi tadi malam mengaku belum menerima laporan kejadian matinya ikan di aliran Krueng Lamnyong. Namun, kata Husaini, kasus itu bukan yang pertama, karena sudah pernah terjadi pada bulan Juli 2009.

“Ini mungkin karena perubahan cuaca. Sebelumnya musim kemarau, tiba-tiba hujan. Sehingga kadar asam air bertambah dan bisa menyebabkan sebagian ikan mati. Kasus seperti ini tidak hanya terjadi di sungai, tetapi juga di kolam ikan. Jika kasusnya seperti ini, maka sama seperti hasil penelitian laboratorium ketika peristiwa serupa pada bulan Juli 2009,” kata Husaini.

Menurutnya, efek racun terhadap perubahan cuaca ini tidak berbahaya terhadap orang-orang yang mengonsumsi sisa ikan yang masih hidup di Krueng Lamnyong itu. Meski demikian, Husaini juga tidak mengenyampingkan perkiraan warga bahwa penyebabnya adalah racun yang bersumber dari air pupuk padi.(sal)

Selasa, 07 Agustus 2012

Aceh Punya Potensi Besar di Sektor Kelautan dan Perikanan


Aceh Punya Potensi Besar di Sektor Kelautan dan Perikanan





TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif C Sutardjo menyatakan, Aceh memiliki potensi besar di sektor kelautan dan perikanan.
Meski begitu, menurut Sharif, Aceh sebagai daerah perbatasan, memiliki kerawanan di daerah laut. Potensi rawan tersebut adalah penggalian sumber daya alam, seperti pencurian ikan.
"KKP akan menitikberatkan masalah Illegal, unreported,

UNESCO Tetapkan Laut Wakatobi Sebagai Cagar Biosfir

 

JAKARTA, KOMPAS.com- Unesco menetapkan perairan laut Wakatobi, Indonesia, sebagai salah satu Cagar Biosfir Dunia di antara 20 cagar biosfir baru lainnya.
Dengan demikian, Wakatobi menjadi cagar biosfir ke-8 di Indonesia setelah Cibodas (Jawa Barat), Tanjung Puting (Kalimantan Tengah), Lore Lindu (Sulawesi Tengah), Komodo (NTT), Gunung Leuser (Aceh dan Sumut), Siberut (Sumatera Barat), dan Giam Siak Kecil (Riau).
Kepala Pusat Humas Kemenhut Sumarto, Rabu (25/7/2012), menginformasikan, penetapan itu dilakukan

Amfibi Aneh, Bentuknya Mirip Alat Kelamin Pria


RONDONIA, KOMPAS.com — Para biolog menemukan makhluk hidup yang sangat unik karena sekilas penampilannya mirip alat kelamin pria atau penis. Kemudian diketahui kalau makhluk itu merupakan jenis amfibi.
Meskipun tergolong amfibi, bentuk makhluk tersebut lebih mirip ular. Para ilmuwan menamainya Atretochoana eiselti atau ular yang terkulai/tak kaku. Secara kekerabatan, makhluk ini dekat dengan salamander dan katak.
Amfibi itu ditemukan pada November 2011 lalu, tetapi ilmuwan baru mengonfirmasinya sebagai jenis baru pada Rabu (1/8/2012).
Spesies ini ditemukan di Sungai Madeira di Rondonia, Brasil, saat ilmuwan berupaya mengeringkan

Kapal Trawl Resahkan Nelayan Tamiang

* Nelayan Enggan Melapor
KUALASIMPANG - Keberadaan kapal yang menggunakan pukat harimau (trawl) di perairan Aceh Tamiang sejak dua bulan terakhir, semakin meresahkan nelayan setempat. Sebab, kehadiran kapal dari luar daerah yang mengguanakan pukat harimau itu telah membuat nelayan tradisional berkurang hasl tangkapan. Nelayan telah apatis dan enggan melapor karena selama ini meskipun telah dilapor tidak ada tindakan.

Kechik (Datok) Pusong Kapal, Bramsyah kepada Serambi Minggu (4/12) mengatakan, kapal trawl di

Pukat Trawl Digunakan, Anak Ikan Mati Sia-sia

PENGGUNAAN pukat trawl sekali digunakan di laut, menyebabkan ribuan anak udang, anak ikan belana, gulamo dan anak ikan rajungan mati sia-sia. Tanpa disadari pola kerja itu, merusak mata pencaharian diri sendiri dan orang lain.

Ali Nuddin nelayan asal Pulau Sarok, Singkil, Kabupaten Aceh Singkil, Rabu (25/7) menceritakan, pengalaman menggunakan alat tangkap udang yang dalam bahasa setempat disebut ‘pukat ular’ tersebut.

Selama empat tahun penggunaan pukat trawl, penghasilanya tak cukup sekadar memperbaiki boat dan

Rabu, 01 Agustus 2012

Kepulangan Nelayan Disambut Tangis

Rabu, 1 Agustus 2012 10:00 WIB


01082012foto.9_.jpg
SERAMBI/BUDI FATRIA
Keluarga terharu ketika bertemu dengan Chandra Perdana (20) salah seorang dari dua nelayan Aceh yang dipulangkan dari Thailand saat tiba di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar, Selasa (31/7).


BANDA ACEH - Dua nelayan asal Ulee Lheue, Banda Aceh, Bukhari (37), nakhoda KM Safrina bersama seorang awaknya, Candra Pradana (24) yang terdampar ke perairan Phuket, Thailand, sejak Senin (23/7) lalu, kemarin siang (31/7) tiba di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM) Blangbintang, Aceh Besar. Kepulangan keduanya disambut isak tangis
keluarga yang menjemput di bandara.

Kedua nelayan yang menumpangi pesawat Garuda dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta itu tiba di Bandara SIM sekitar pukul 11.00 WIB. Saat ke luar dari ruang kedatangan dalam negeri Bandara SIM, Candra langsung dipeluk oleh ibunya yang sudah lama menunggu. Perempuan itu tak mampu menahan tangis saat memeluk putranya. Anak perempuan Bukhari juga menangis di pelukan ayahnya, sambil berucap syukur.

Selanjutnya, kedua nelayan ini bersalam-salaman dengan rombongan yang sudah

Dua Nelayan Ulee Lheu Ditemukan di Thailand

Rabu, 25 Juli 2012 13:56 WIB











BANDA ACEH - Dua nelayan Ulee Lheu, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh yang menghilang sejak melaut 1 Juli 2012 dari Pelabuhan Perikanan Ulee Lheu, sudah ditemukan oleh polisi Thailand di perairan laut negara itu. Keduanya adalah Bukhari (37), nahkoda boat KM Safrina dan
Candra Pradana (24), anak buah kapal (ABK) Safrina itu.

Panglima Laot Aceh HT Bustamam menyampaikan informasi itu setelah menerima pemberitahuan dari Lanal Sabang dan SAR Aceh kemarin. Menurutnya, kronologis kedua nelayan itu ditangkap masih menunggu pemberitahuan pihak KBRI di Thailand.

“Mudah-mudahan mereka tidak bermasalah dan segera dikembalikan ke keluarga masing-masing. Apalagi keduanya hanya nelayan tradisional yang sebatas mencari nafkah untuk kebutuhan rumah tangga sehari-hari,” tulis Bustamam lewat siaran pers kepada Serambi kemarin.

Kata Bustamam, pihaknya akan terus bekerja sama dengan pihak, seperti KBRI di Thailand,

Dua Nelayan Aceh Diamankan di Phuket

Sabtu, 28 Juli 2012 13:29 WIB


KBRI Thailand Segera Upayakan Pemulangan

BANDA ACEH - Keberadaan dua nelayan asal Aceh, Bukhari (37), nakhoda KM Safrina bersama ABK-nya, Candra Pradana (24), yang menghilang sejak melaut pada 1 Juli 2012 dari Pelabuhan Perikanan Ulee Lheu, Banda Aceh dipastikan dalam kondisi sehat dan berada dalam pengamanan kepolisian Distrik Phuket, Thailand.

Informasi mengenai lokasi diamankannya kedua nelayan asal Ulee Lheue, Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh tersebut diterima Sekjen Panglima Laot Aceh, H Umar Abd Aziz pada Jumat (27/7) sore dari Sekretaris Kedua KBRI Thailand, Evita Chaesara.

“Ya, pada Jumat sore, Ibu Evita menelepon mengabarkan lokasi keberadaan Bukhari dan Chandra,” kata Umar kepada Serambi, malam tadi.

Menurut Umar, sejak menerima surat pemberitahuan dari Panglima Laot Aceh tentang