Selasa, 30 Oktober 2012

Teknologi Umpan Buatan Untuk Nelayan dari Sampah Plastik PET (PolyEthylene Terephthalate) Untuk Mengoptimalkan Hasil Tangkapan

Oleh : Arqi Eka Pradana 

Di Indonesia limbah plastik merupakan masalah yang sudah dianggap serius bagi pencemaran lingkungan khususnya bagi pencemaran air dan tanah. Bahan plastik merupakan bahan anorganik yang sulit terurai oleh bakteri sehingga membutuhkan waktu ratusan tahun untuk menguraikannya. Menurut Data Statistik Persampahan Domestik Indonesia, Kementerian Lingkungan Hidup 2008, menyebutkan jenis sampah plastik sebesar 5,4 juta ton per tahun. Jumlah ini mengalami peningkatan dan mampu menggeser posisi sampah kertas dengan jumlah 3,6 juta ton/tahun. Dari jumlah tersebut, 30 persen darinya adalah plastik jenis PET
(PolyEthylene Terephthalate). PET adalah jenis plastik yang biasanya dipakai untuk botol air mineral, botol minuman bersoda, botol shampoo, botol obat kumur dan botol untuk selai roti.
Penanganan sampah plastik di Indonesia hingga kini dinilai masih sebatas wacana. Terbukti bahwa sampai sekarang masih sangat banyak ditemui masalah-masalah yang ditimbulkan oleh limbah plastik, contohnya:
1.      Pendangkalan sungai dan penyumbatan aliran sungai yang menyebabkan banjir
2.      Tercemarnya tanah, air tanah, dan makhluk bawah tanah
3.      Racun-racun dari partikel plastik yang masuk ke dalam tanah akan membunuh hewan-hewan pengurai di dalam tanah seperti cacing
4.      Hewan-hewan laut seperti lumba-lumba, penyu laut, dan anjing laut menganggap kantong-kantong plastik tersebut makanan dan akhirnya mati karena tidak dapat mencernanya
5.      Ketika hewan mati, kantong plastik yang berada di dalam tubuhnya tetap tidak akan hancur menjadi bangkai dan dapat meracuni hewan lainnya bahkan manusia
Untuk mengurangi masalah tersebut perlu adanya pemanfaatan dalam pengolahan sampah plastik tersebut.
Dalam kegiatan penangkapan ikan dengan menggunakan pancing akan tidak terlepas dari penggunaan umpan. Umpan yang digunakan adalah umpan alami, bisa dalam keadaan hidup (live bait) atau mati, contoh dari umpan tersebut misalnya ikan terbang, ikan tembang, cumi-cumi, lemuru, udang, bahkan daging. Umpan alami bisa diperoleh dari alam dengan cara menangkap atau membeli dalam keadaan segar yang tersedia dipasaran. Kelemahan umpan alami adalah tidak tahan lama dan jarang dapat digunakan secara berulang, sehingga ada upaya untuk menggunakan umpan buatan (artificial bait). Umpan buatan atau umpan tiruan adalah salah satu jenis umpan yang dibuat secara khusus meniru bentuk umpan alami untuk mengelabuhi ikan target. Pembuatan umpan buatan (artificial bait) berfungsi sebagai pensubstitusi umpan alami yang sedikit demi sedikit ditinggalkan untuk mengatasi permasalahan terbatasnya ketersediaan umpan alami di alam. Kelemahan umpan buatan yang telah ada sekarang adalah kurang menarik rangsang ikan dan pembuatannya yang relatif sulit bagi nelayan awam.
Teknologi inovatif umpan buatan dalam hal ini adalah melalui pendekatan rangsangan penglihatan (optical stimuli) dan rangsangan kimiawi (chemical stimuli) pada ikan target. Untuk pendekatan rangsangan penglihatan pada umpan buatan yang dibuat akan digunakan fosfor putih yang bersifat bercahaya pada kegelapan. Sedangkan untuk pendekatan rangsangan kimiawi pada ikan target teknologi inovatif umpan buatan yang akan digunakan yaitu dengan mencampurkan aroma ekstrak tumbuhan (untuk ikan target herbivora), ekstrak cumi-cumi dan ekstrak darah (untuk ikan target karnivora). Dengan demikian teknologi umpan buatan ini akan sangat serupa dengan kondisi umpan hidup (live bait) sehingga dapat dengan maksimal merangsang ikan.

Pembuatan umpan buatan inovatif dilakukan secara manual dan dengan metode yang mudah. Langkah-langkah pembuatannyan adalah sebagai berikut:
1.      Meyiapkan bahan dasar dan alat-alat yang dipakai meliputi: sampah plastik PET (PolyEthylene Terephthalate), fosfor putih, ekstrak aroma, cetakan umpan, dan alat pembakaran
2.      Pemotongan plastik menjadi kecil-kecil dan mencucinya
3.      Pelelehan potongan plastik kedalam tungku yang dipanaskan diatas kompor hingga meleleh dan pecampuran dengan fosfor putih dengan perbandingan untuk 1 Kg plastik membutuhkan 300 gr fosfor
4.      Pencetakan dengan menuangkan kedalam cetakan yang sudah disediakan dan memberikan ruang di dalam umpan dengan cara diberikan gumpalan tissue pada waktu penuangan ke cetakan
5.      Pemberian tekanan dan pendidinginan
Oleh karena itu dengan adanya teknologi umpan buatan tersebut akan sangat bermanfaat dan dapat menyelesiakan 2 masalah secara bersamaan. Pertama adalah pemanfaatan sampah yang menimbulkan banyak masalah dan membantu program pemerintah dalam menaggulangi sampah plastik. Kedua adalah masalah keterbatasan ketersediaan umpan alami dan sebagai inovasi teknologi dikalangan masyarakat nelayan.


Keterangan
Nama               : Arqi Eka Pradana
TTL                 : Tulungagung, 22 Mei 1993
Pendidikan       : Universitas Brawijaya
NIM                : 11580201111007
Jenis Lomba     : Media Campaign Contest (Online Writing Contest)
Tema                : Manajemen dan Pemanfaatan Sumber Daya Laut Indonesia
Sub Tema         : Teknologi di kalangan masyarakat pesisir
Judul                            : Teknologi Umpan Buatan Untuk Nelayan dari Sampah Plastik PET (PolyEthylene Terephthalate) Untuk Mengoptimalkan Hasil Tangkapan Nelayan
Teknologi Umpan Buatan Untuk Nelayan dari Sampah Plastik PET (PolyEthylene Terephthalate) Untuk Mengoptimalkan Hasil Tangkapan-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar