Senin, 17 September 2012

Sabang Lebih Cocok Jadi Pangkalan Ikan

BANDA ACEH - Presiden Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Muhammad Said Didu, menilai, Sabang lebih cocok jadi pangkalan perikanan Asia Selatan. Sebab secara alamiah, Sabang akan menjadi pintu masuk dan penghubung Indonesia ke negara-negara Asia Selatan.

“Menjadikannya sebagai pangkalan perikanan Asia Selatan lebih realistis dan rasional,”

Senin, 10 September 2012

Warga Lampanah Datangi Bapedal Aceh

Rabu, 9 Mei 2012 10:48 WIB


090512foto.13_.jpg
Mahasiswa bersama warga Lampanah Leungah, Kecamatan Seulimuem, Aceh Besar melakukan aksi demo di Kantor Bapedal Aceh, Selasa (8/5). Dalam aksi itu warga menolak keberadaan tambang bijih besi di daerah mereka. SERAMBI/BUDI FATRIA

BANDA ACEH - Warga Kemukiman Lampanah Leungah, Kecamatan Seulimuem, Aceh Besar, kembali menyatakan penolakannya terhadap rencana pengerukan dan penambangan pasir besi di wilayah perairan mereka. Penyataan itu diusung di poster yang dibawa oleh pendemo saat sejumlah perwakilan masyarakat dari lima desa di Kemukiman Lampanah Leungah bertemu Komisi Penilai Amdal Aceh, di Kantor Bapedal Aceh, Selasa (8/5).

“Pada pertemuan itu memang tidak dibahas apakah tuntutan warga diterima atau ditolak. Tapi, semua masukan dari perwakilan warga, pakar hukum, pemerhati lingkungan, serta pihak lainnya akan menjadi acuan keputusan yang akan ditentukan nantinya, oleh Ketua Komisi Penilai Amdal Aceh. Tapi bagaimana pun, seluruh masyarakat tetap

PT SSN Akui Kolam Limbahnya Jebol

Sabtu, 8 September 2012 14:16 WIB



* Warga Tuntut Ganti Rugi

SUBULUSSALAM – PT Sumatera Sawit Nabati (SNN) akhirnya mengakui, kolam penampungan limbah pabrik minyak kelapa sawit (PMKS) miliknya yang berlokasi di Desa Singgersing, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam pernah jebol, sehingga sebagian limbahnya ke luar dan mencemari sungai. Dampak dari pencemaran itu, berton-ton ikan dan udang di sungai itu mati, Rabu (5/9) pagi.

Pengakuan tersebut disampaikan Manajer Pabrik PT SSN, Jamaluddin di hadapan kepala desa, tokoh pemuda, pegiat LSM, mahasiswa, dan ratusan nelayan serta masyarakat Kecamatan Runding dalam pertemuan di Aula Sekretariat Kecamatan Runding, Jumat (7/9) pagi.

Sebelumnya, sejak Rabu hingga Kamis, Jamal terkesan

DPRK Subulussalam Minta PT SSN Hentikan Operasi

Minggu, 9 September 2012 09:19 WIB


* Dampak Tercemarnya Sungai Batu-Batu

SUBULUSSALAM – Tercemarnya Sungai Batu-Batu oleh limbah pabrik minyak kelapa sawit (PMKS) PT Sumatera Sawit Nabati (SSN) disikapi oleh DPRK Subulussalam dengan meminta pihak perusahaan menghentikan sementara operasional pabrik di Desa Singgersing, Kecamatan Sultan Daulat hingga persoalan dengan masyarakat selesai.

“Surat sudah saya teken kemarin, meminta perusahaan menghentikan operasional pabriknya hingga persoalan dengan masyarakat selesai,” kata Ketua DPRK Subulussalam, Pianti Mala menjawab Serambi, Sabtu (8/9).

Pianti mengatakan, langkah tegas tersebut

Ada Indikasi Sungai Tercemar Limbah PMKS

Jumat, 7 September 2012 09:30 WIB


* Ditemukan Kolam Baru Diperbaiki

SUBULUSSALAM – Dugaan masyarakat bahwa matinya berton-ton ikan dan udang di Sungai Batu-Batu, Kecamatan Runding, Kota Subulussalam, Rabu (5/9), disebabkan pencemaran limbah pabrik minyak kelapa sawit (PMKS), kini makin menguat.

Pasalnya, berdasarkan pengecekan Tim Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan, Pertamanan, dan Pemadam Kebakaran (BLHKPPK) Kota Subulussalam ke lapangan Kamis (6/9) kemarin, ditemukan fakta adanya tanggul kolam penampungan limbah PMKS milik PT Sawit Sejahtera Nabati (SSN) di Desa Singgersing, Kecamatan Sultan Daulat yang dindingnya terkesan baru diperbaiki.

Ibnu Hajar yang didampingi Ramli, Kabid Lingkungan Hidup dan

Ikan di Sungai Batu-batu Mati

Kamis, 6 September 2012 09:48 WIB

06092012foto.12_.jpg



* Mati Massal Diduga Keracunan Limbah Pabrik *

SUBULUSSALAM - Aliran Sungai Batu-batu yang bermuara ke Sungai Souraya, Kecamatan Runding, Kota Subulussalam diduga tercemar limbah pabrik menyebabkan ikan dan udang mati massal--bahkan diprediksi bisa punah. Fenomena memiriskan itu terlihat sejak Rabu (5/9) pagi setelah air sungai berubah keruh kehitam-hitaman menebarkan aroma persis limbah kelapa sawit.

Berkembang dugaan penyebab matinya hasil sungai yang menjadi andalan nelayan Kecamatan Runding dan Simpang Kiri itu akibat tercemar limbah pabrik minyak kelapa sawit. “Kami duga ada limbah yang tumpah ke sungai, tapi ini yang

Sabtu, 01 September 2012

Boat Karam belum Ditarik

Sabtu, 1 September 2012 12:11 WIB




MEUREUDU - Kapal Motor (KM) Nadia 3, milik H Zainal Abidin, warga Teupin Pukat Meurahdua yang tenggelam di perairan Meureudu Pidie Jaya pada Rabu (29/8) lalu hingga Jumat kemarin belum ditarik dan masih di lokasi kejadian.

Sementara Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pijay Ir H Ikhsanuddin menyebutkan, untuk mendapatkan bantuan, pemilik boat perlu membuat laporan tertulis diketahui keuchik seterusnya disampaikan ke BPBD melalui camat setempat.

Kerugian sebesar itu, kata M Nasir Mahmud, Panglima Laot Meurahdua, karena selain boat dan mesin, juga pukat dan semua peralatan tidak bisa diambil lagi. KM Nadia 3 dengan berkekuatan mesin 150 PK atau 29 GT saat berlayar ke laut dua hari sebelum nahas berkekuatan 20 orang nelayan. 
Karamnya boat tersebut dilaporkan karena badan kapal bocor.

Pukat Harimau Merajalela di Singkil

Sabtu, 1 September 2012 11:05 WIB
 



SINGKIL - Kapal pukat harimau asal Sibolga, Sumatera Utara, dilaporkan makin merajalela menjarah ikan di laut Aceh Singkil. Wilayah tangkapnya dekat saja dengan garis pantai, hingga deru suara mesinnya terdengar di tengah keheningan malam hari ke pemukiman penduduk.

Kondisi itu, meresahkan nelayan tradisional yang mencari nafkah tak jauh dari bibir pantai. Bila tidak segera ada tindakan dari aparat terkait, dikhawatir dapat memicu konflik di tengah lautan. “Tadi malam sudah ada masuk lima kapal pukat harimau. Terlihat oleh nelayan di sekitar Pulau Birahan (masuk dalam wilayah Kecamatan Singkil Utara-red) itu kan dekat sekali dengan wilayah kita,” kata Sujono nelayan di Singkil Utara, Jumat (31/8).

Menurutnya, daerah tangkapan kapal pukat harimau berada dalam wilayah perairan Singkil Utara. Sehingga nelayan setempat yang menggunakan peralatan tangkap tradisional kesulitan dalam mencari ikan di laut. “Kalau pukat harimau habis semua ikan yang ada dilaut dari mulai yang kecil hingga sebesar kapal,” imbuh nelayan lainnya.

Kapal pukat harimau melakukan aksinya pada malam Jumat, ketika nelayan Aceh Singkil libur melaut. Hal itu dilakukan agar terhindar dari pantauan nelayan setempat. Warga mendesak aparat terkait segera menertibkan kapal pukat harimau, sebelum seluruh isi kekayaan laut Aceh Singkil, ludes terkuras.